Minggu, 18 Februari 2024

Surat Al Ikhlash Sebagai Dalil Keesaan Allah Serta Kesempurnaan Nama Dan Shifat-Nya


 

Surat Al Ikhlash Sebagai Dalil Keesaan Allah Serta Kesempurnaan Nama Dan Shifat-Nya

1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

     Surat ini dinamakan Al Ikhlas karena di dalamnya berisi pengajaran tentang tauhid. Oleh karena itu, surat ini dinamakan juga Surat Al Asas, Qul Huwallahu Ahad, At Tauhid, Al Iman, dan masih banyak nama lainnya.

     Surat ini merupakan surat Makiyyah dan termasuk surat Mufashol. Surat Al Ikhlas ini terdiri dari 4 ayat, surat ke 112, diturunkan setelah surat An Naas. (lihat At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim)

     Ada dua sebab kenapa surat ini dinamakan Al Ikhlash.Yang pertama, dinamakan Al Ikhlash karena surat ini berbicara tentang ikhlash. Yang kedua, dinamakan Al Ikhlash karena surat ini murni membicarakan tentang Allah. 

Sabtu, 17 Februari 2024

Nasihat Untuk Saudaraku Para Muallaf Dan Juga Kutujukan Untuk Diriku Sendiri


 

Nasihat Untuk Saudaraku Para Muallaf Dan Juga Kutujukan Untuk Diriku Sendiri


1.  Hendaknya pelajari syari'at Islam secara benar terutama yang hukumnya wajib bagi kita, seperti rukun Islam, menutup aurat dst.

2.  Perdalamlah mempelajari Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dan Ushul As Sunnah yang ditulis para imam Ahlus Sunnah serta terdapat ijma'. Dan ini termasuk perkara yang paling utama dan terpenting.

3.  Usahakan belajar bahasa Arab untuk membantu kita memahami Al Qur'an dan Hadits Nabi ﷺ sesuai pemahaman para Shahabat Nabi.

4.  Disamping menjaga sholat, maka hendaknya kita selalu berupaya menjaga kejujuran karena kejujuran termasuk mahkota akhlaq paling mulia dan bisa membawa kita kepada jalan semua kebaikan.

5.  Senantiasa berdoa kepada Allah agar kita selalu diberi rohmat, hidayah/petunjuk dan taufiq, ilmu nafi', keistiqomahan serta keselamatan.

فنسأل اللَه تعالى علماً نافعاً ونعوذ به من علم لا ينفع. ومن قلب لا يخشع. ومن نفس لا تشبع: ومن دعاء لا يسمع: اللهم إنّا نعوذ بك من هؤلاء الأربع الحمد لله رب العالمين وصلى الله عليه وسلم على سيدنا محمد وآله وصحبه أجمعين.

Janganlah Kalian Seperti Keledai Yang Membawa Kitab



 

Janganlah Kalian Seperti Keledai Yang Membawa Kitab


مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًاۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
               
"Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Jumu'ah Ayat: 5)

     Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan :

يَقُولُ تَعَالَى ذَامًّا لِلْيَهُودِ الَّذِينَ أُعْطُوا التَّوْرَاةَ وَحَمَلُوهَا لِلْعَمَلِ بِهَا، فَلَمْ يَعْمَلُوا بِهَا، مَثَلُهُمْ فِي ذَلِكَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا، أَيْ: كَمَثَلِ الْحِمَارِ إِذَا حُمِّلَ كُتُبًا لَا يَدْرِي مَا فِيهَا، فَهُوَ يَحْمِلُهَا حَمْلًا حِسِّيًّا(١) وَلَا يَدْرِي مَا عَلَيْهِ.

Allah Ta'ala berfirman, mencela orang-orang Yahudi yang telah diberi kitab Taurat dan telah Dia bebankan kepada mereka kitab Taurat itu untuk diamalkan. Kemudian mereka tidak mengamalkannya, perumpamaan mereka dalam hal ini sama dengan keledai yang dipikulkan di atas punggungnya kitab-kitab yangtebal. Makna yang dimaksud ialah keledai itu tidak dapat memahami kitab-kitab yang dipikulnya dan tidak mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, karena keledai hanya bisa memikulnya saja tanpa dapat membedakan muatan apa yang dibawanya.

وَكَذَلِكَ هَؤُلَاءِ فِي حَمْلِهِمُ الْكِتَابَ الَّذِي أُوتُوهُ، حَفِظُوهُ لَفْظًا وَلَمْ يَفْهَمُوهُ(٢) وَلَا عَمِلُوا بِمُقْتَضَاهُ، بَلْ أَوَّلُوهُ وَحَرَّفُوهُ وَبَدَّلُوهُ، فَهُمْ أَسْوَأُ حَالًا مِنَ الْحَمِيرِ؛ لِأَنَّ الْحِمَارَ لَا فهمَ لَهُ، وَهَؤُلَاءِ لَهُمْ فُهُومٌ لَمْ يَسْتَعْمِلُوهَا؛ وَلِهَذَا قَالَ فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى: ﴿أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ﴾ [الأعراف: ١٧٩] وقال هاهنا: ﴿بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾

     Demikian pula halnya dengan mereka yang telah diberi Al-Kitab, mereka hanya dapat menghafalnya secara harfiyah, tetapi tidak memahaminya dan tidak pula meengamalkan pesan-pesan dan perintah-perintah serta larangan-larangan yang terkandung di dalamnya. Bahkan mereka menakwilkannya dengan takwilan yang menyimpang dan menggantinya dengan yang lain. Keadaan mereka jauh lebih buruk daripada keledai, karena keledai adalah hewan yang tidak berakal, sedangkan mereka adalah makhluk yang berakal, tetapi tidak menggunakannya. Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain: {أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ} "Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raf : 179). Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya: {بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} "Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. Al-Jumu'ah: 5)

وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ: حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَير، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا، وَالَّذِي يَقُولُ لَهُ "أنصت"، ليس له جمعة"(٣)

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Namir, dari Mujalid, dari Asy-Sya'bi, dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda : "Barang siapa yang berbicara pada hari Jumat, padahal imam sedang berkhotbah, maka perumpamaannya sama dengan keledai yang memikul kitab-kitab yang tebal. Dan orang yang berkata kepadanya, "Diamlah!" Maka tiada (pahala) Jumat baginya."


Agama Yang Diridhai Disisi Allah Hanya Islam


 

Agama Yang Diridhai Disisi Allah Hanya Islam
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ

     Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ ◇ فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang ilmu kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang "ummi" : “Apakah kamu (mau) masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (hujjah dan bayan). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.“ (QS. Al Imran : 19-20)

     Setelah datangnya agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad , maka agama lainnya seperti Nashrani dan Yahudi, seluruhnya adalah agama yang batil dan tidak diridhoi oleh Allah. Allah Ta'ala berfirman :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85).

Jumat, 16 Februari 2024

Kalimat Tauhid Dan Sholat Sebagai Tanda Pembeda Islam Dengan Kafir



Kalimat Tauhid Dan Sholat Sebagai Tanda Pembeda Islam Dengan Kafir



عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الَّرحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهِ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ : بُنِيَ الإسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ, وَحَجِّ الْبَيْتِ, وَصَوْمِ رَمَضَانَ. (رواه البخاري و مسلم)

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhuma berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah  bersabda: “Islam dibangun atas lima pekara. (1) Syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah, (2) mendirikan shalat, (3) mengeluarkan zakat, (4) melaksanakan haji, dan (5) berpuasa Ramadhan”. (HR Bukhari dan Muslim)

Imam Malik dalam Kitab Al-Muwaththa’ meriwayatkan hadits sebagai berikut:

  أَنَّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم قال تَركْتُ فيكُمْ أَمْرَيْنِ مَا إِنْ تَمسَّكْتُمْ بِهِمَا لنْ تَضِلُّوا أَبَدًا: كِتَابَ اللهِ، وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Rasulullah bersabda, ‘Aku meninggalkan dua hal di tengah kalian; selama berpegang pada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya: yaitu kitab Allah dan sunah rasul-Nya,’” (HR. Imam Malik).
 

Kamis, 15 Februari 2024

Asal Usul Lafazh Allah ( الله ) Ditinjau Dari Bahasa




 

Asal Usul Lafazh Allah ( الله ) Ditinjau Dari Bahasa


     Ulama ahli bahasa telah membahas asal usul kata Allah. Pembahasan ini terkait tinjauan bahasa kata Allah, BUKAN membahas asal Dzat Allah.

■  Pendapat pertama, bahwa kata Allah (الله) adalah kata murtajal atau kata jamid (kata yang tidak memiliki kata asal).

     Seperti kata "sumur" kita tidak mengatakan, kata "sumur" berasal dari kata "su" atau "mur". Berbeda dengan kata "perbuatan" yang ini berasal dari kata dasar "buat" atau kata "kekuasaan", yang ini berasal dari kata "kuasa".

     Karena kata "Allah" tidak memiliki asal-usul, maka tidak perlu dicari kata dasarnya dan tidak boleh dihilangkan alif dan lam yang ada di depan kata Allah (الله).

     Ini merupakan pendapat Ibnul Arabi (wafat 543), Abul Qasim as-Suhaili (wafat 581), ar-Razi (wafat 606), banyak di kalangan ahli ushul dan merupakan salah satu pendapat Sibawaih. Mereka beralasan, nama Allah tidak memiliki kata asal, karena jika memiliki kata dasar berarti kata ini turunan. Sementara nama Allah itu qadiim (ada sejak awal), sementara sesuatu yang qadiim tidak memiliki asal.

■  Pendapat kedua, kata Allah adalah kata musytaq (kata turunan yang memiliki kata dasar).

     Pendapat ini berdalil dengan firman Allah,

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ

“Dialah Allah di langit dan di bumi..” (QS. al-An’am: 3)

     Ayat ini menegaskan bahwa kata "Allah" adalah kata sifat bagi Sang Pencipta. Agar ayat di atas bisa dipahami dengan baik, kata "Allah" harus ditarik pada asal katanya, yaitu al-Ilah (Sang Tuhan yang disembah). Sehingga bisa kita terjemahkan, “Dialah Sang Tuhan yang disembah di langit dan di bumi.”

     Jika kita pahami bahwa kata ini tidak memiliki kata asal, terjemahnya akan menjadi rancu, “Dialah ‘Allah’ di langit dan di bumi..” Padahal Allah tidak berada di bumi.

     Ibnul Qayyim mengatakan,

ولهذا كان القول الصحيح أن الله أصله الإله، كما هو قول سيبويه وجمهور أصحابه، إلا مَن شذ منهم، وأن اسم الله تعالى هو الجامع لجميع معاني الأسماء الحسنى، والصفات العلى

"Karena itulah, pendapat yang benar bahwa kata Allah berasal dari kata al-Ilah (Sang Tuhan yang disembah), yang ini merupakan pendapat Sibawaih dan mayoritas pengikutnya, kecuali sebagian kecil yang tidak sepakat dengannya. Dan bahwa nama Allah Ta’ala adalah nama yang menggabungkan semua makna dari asmaul husna dan sifat-sifat-Nya yang mulia." (lihat Bada’i al-Fawaid, 2/473).

     Ulama ahli bahasa berbeda pendapat dalam masalah ini.
(1) Kata Allah berasal dari kata al-Ilaah (الإِلَـه) yang itu merupakan turunan dari kata Aliha – Ya’lahu [أَلِـهَ – يَـأْلَـهُ] yang artinya menyembah atau beribadah. Sedangkan kata ilaah adalah bentuk masdar (kata dasar) yang bisa bermakna sebagai isim fa’il (pelaku) dan bisa juga sebagai isim maf’ul (objek perbuatan). Jika kita bawa pada makna isim maf’ul; berarti menjadi al-Ma’luh [الـمـألوه] yang artinya Dzat yang disembah.
(2) Kata Allah berasal dari kata laaha – yaliihu [لاه – يليه] yang artinya tersembunyi. Yang ini mengisyaratkan bahwa diberi nama ‘Allah’ karena Dia Dzat yang tersembunyi dari semua makhluk-Nya.
(lihat I’rab al-Quran wa Bayanuhu, Muhyiddin Darwisy, 1/9)

Perbedaan Hanya Kajian Seputar Bahasa

     Bahwa perbedaan ulama dalam masalah ini hanya perbedaan dari sisi makna bahasa. Perbedaan di permukaan (ikhtilaf syakli). Karena itu, semua tetap meyakini bahwa kata ‘Allah’ adalah nama untuk Rabbul Izzah, Sang Pencipta langit dan bumi.

     Ibnul Qayyim rahimahullah mengakhiri pembahasan ini dengan menyatakan,

إن اختلاف القائلين بالاشتقاق وعدمه، إنما هو اختلاف شكلي، أما اعتقادهم في أسماء وصفات الله كلها فهو أنها قديمة، والقديم لا مادة له

Bahwa perbedaan pendapat mengenai asal kata "Allah", apakah memiliki akar kata ataukah tidak, hanyalah ikhtilaf syakli. Adapun keyakinan mereka terkait nama dan sifat Allah, semuanya adalah qadim (sejak dulu). Sedangkan sesuatu yang qadim berarti tidak memiliki unsur penyusun.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Rabu, 14 Februari 2024

Siapakah Malaikat Jibril ?




 
Siapakah Malaikat Jibril ?


     Jibril dalam bahasa lain disebut Jibrail (جبرائيل(.Sebagian ahli tafsir mengatakan, bahwa ini merupakan bahasa Ibrani, susunan dari dua kata: Jibr (جبر) yang artinya hamba, dan kata iil (إيل) yang merupakan salah satu dari nama Allah. Sehingga arti dari Jibrail adalah Abdullah (hamba Allah)." (lihat at-Tahrir wa at-Tanzil, Ibnu Asyur, 1/620).

Gelar Malaikat Jibril

     Allah menyebut Jibril dengan ar-Ruh al-Amin (Ruh yang amanah)

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ  نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ  عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ

Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. (QS. As-Syu’ara’: 192 – 194)

     Beliau digelari dengan Ruh al-Qudus (Ruh suci)

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman… (QS. An-Nahl: 102).

Bagaimana Fiisik Malaikat Jibril ?

     Jibril diciptakan dari cahaya, sebagaimana para malaikat lainnya. Disebutkan dalam hadis dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Nabi  bersabda,

خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari nyala api… (HR. Muslim 2996).

     Nabi  melihat Jibril dalam wujud aslinya dua kali. Allah berfirman :

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى عِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى

“Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (13) (yaitu) di Sidratil Muntaha.” (QS. An-Najm: 13-14). Aisyah pernah bertanya kepada Nabi  tentang ayat ini. Beliau bersabda,

إنما هو جبريل، لم أره على صورته التي خُلق عليها غير هاتين المرتين. رأيته منهبطاً من السماء، سادّاً عِظَمُ خَلْقه ما بين السماء إلى الأرض

Itu adalah Jibril. Aku belum pernah melihatnya dalam bentuk asli selain di dua kesempatan ini. Aku melihatnya turun dari langit, besar fisiknya menutupi antara langit dan bumi. (HR. Muslim 177).

     Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى جِبْرِيلَ لَهُ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ

“Nabi melihat Jibril, dengan 600 sayap.” (HR. Bukhari 3232 dan Muslim 174)

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ جَاعِلِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا أُوْلِيٓ أَجۡنِحَةٖ مَّثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۚ يَزِيدُ فِي ٱلۡخَلۡقِ مَا يَشَآءُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ   [ فاطر: 1]

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Faathir : 1)


Keutamaan Malaikat Jibril

     Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ . ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ . مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (QS. At-Takwir: 19-21).

     Dalam ayat di atas, ada beberapa sifat jibril : (1) Utusan Allah yang mulia, (2) Makhluk yang kuat, (3) Memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah pemilik Arsy, (4) Ditaati para malaikat lainnya, (5) Amanah di sisi Allah Ta’ala.

     Allah Ta'ala juga berfirman :

عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى*ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى

Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang memiliki mirrah; dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli. (QS. An-Najm: 5-6).

     Para Ulama berbeda pendapat tentang makna Dzu Mirrah, menurut Ibnu Abbas, dzu mirrah artinya penampilan yang sangat indah. Sementara menurut Mujahid, artinya memiliki kekuatan. (lihat Tafsir Ibnu Katsir).

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَمَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

“Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 97-98)

Meniti Jejak Tauhid dari Yerusalem Hingga Kebangkitan Islam

  Meniti Jejak Tauhid dari Yerusalem Hingga Kebangkitan Islam Di Yerusalem, fajar iman membentang nyata, Yesyua' datang membawa wahyu ...