Meniti Jejak Tauhid dari Yerusalem Hingga Kebangkitan Islam
Di Yerusalem, fajar iman membentang nyata,
Yesyua' datang membawa wahyu sang Pencipta
Bukanlah Tuhan, namun hamba yang mulia,
Menjaga Taurat, menebar damai bagi manusia.
Namun Paulus datang membawa paham berbeda,
Petrus murid setia Yesyua' tegas mengingkarinya,
Hukum Taurat dijaga, tak sudi ajaran dicerca,
Namun arus zaman menyeret iman ke arah lain muka.
Kaum Ebionit tetap teguh memegang janji,
Menolak penyembahan pada sosok insani,
Sisa-sisa kebenaran terus mengalir sunyi,
Bersembunyi dari kuasa Romawi yang membelenggu diri.
Didache dan naskah kuno menjadi saksi bisu,
Tentang jemaat awal yang tetap memegang restu,
Bahwa Sang Mesias hanyalah Hamba Allah satu,
Bukan sekutu Tuhan, bukan pula anak-Mu.
Waraqah sang cendekia membaca kitab lama,
Mengenali Jibril yang datang membawa cahaya,
Menyambut Rasul, membenarkan risalah utama,
Jembatan iman tersambung dalam satu jiwa.
Najasyi di Habasyah membuka pintu hati,
Mendengar ayat dibacakan, ia pun menangisi,
Bahwa Isa hanyalah utusan Tuhan yang suci,
Tak lebih dari ranting, itulah bukti hakiki.
Kini sejarah terkuak dari debu dan naskah,
Membuktikan Islam adalah restorasi nan indah,
Bukan ajaran baru, namun titian yang terasah,
Menegakkan dakwah Tauhid, laa ilaha illa Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar