Senin, 05 Februari 2024

Waspadalah Terhadap Tipu Daya Dan Makar Orang Kafir


 



Waspadalah Terhadap Tipu Daya Dan Makar Orang Kafir


     Sejak dahulu hingga sekarang, sesungguhnya musuh-musuh Islam selalu berniat melenyapkan Islam dan kaum muslimin. Mereka melakukannya dengan berbagai cara. Allah Subhanahu wa Ta’ala meminta kita agar waspada terhadap makar-makar mereka. Allah Ta'ala berfirman:

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً

"Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)…." (QS. An-Nisâ` : 89)

     Namun atas izin Allah maka upaya mereka selalu gagal. Allah Ta'ala telah memupus rencana jahat mereka, sehingga Islam tetap eksis. Allah Ta'ala berfirman :

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

"Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu membenci." (QS. At Taubah : 32)

Minggu, 04 Februari 2024

Orang Kafir & Ahlu Ahwa' Bertanya : "Siapa Saksi Muhammad Menerima Wahyu/Menjadi Rasul ?"


 

Orang Kafir & Ahlu Ahwa' Bertanya : "Siapa Saksi Muhammad Menerima Wahyu/Menjadi Rasul ?"

https://wahaiahlikitab.blogspot.com/2024/02/orang-kafir-ahlu-ahwa-bertanya-siapa.html?m=1


     Allah Ta'ala berfirman :

... وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا
              
"... Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi." (QS. An-Nisa' : 79)

قُلْ اَيُّ شَيْءٍ اَكْبَرُ شَهَادَةً ۗ قُلِ اللّٰهُ ۗشَهِيْدٌۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْ ۗوَاُوْحِيَ اِلَيَّ هٰذَا الْقُرْاٰنُ لِاُنْذِرَكُمْ بِهٖ وَمَنْۢ بَلَغَ ۗ اَىِٕنَّكُمْ لَتَشْهَدُوْنَ اَنَّ مَعَ اللّٰهِ اٰلِهَةً اُخْرٰىۗ  قُلْ لَّآ اَشْهَدُ ۚ قُلْ اِنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ وَّاِنَّنِيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

"Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang lebih kuat "شَهَادَةً" (= kesaksian)nya?” Katakanlah, “Allah, Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (Al-Qur'an kepadanya). Dapatkah kamu benar-benar bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah?” Katakanlah, “Aku tidak dapat bersaksi.” Katakanlah, “Sesungguhnya hanya Dialah Tuhan Yang Maha Esa dan aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).” (QS. Al An'am : 19)

Ancaman Neraka Jahannam Atas Orang Kafir Dari Ahli Kitab Dan Musyrikin





Ancaman Neraka Jahannam Atas Orang Kafir Dari Ahli Kitab Dan Musyrikin


اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِۗ

"Sungguh orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk." (QS. Al Bayyinah : 6)

Sabtu, 03 Februari 2024

Bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil Dan Takbir


 


Bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil  Dan Takbir


سبحان الله
Maha Suci Allah

والحمد لله
Segala Puji Hanya Bagi Allah

ولا إله إلا الله
Tidak ada llah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Allah

والله أكبر
Allah Maha Besar

ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung

Semua Para Nabi & Rasul Mentauhidkan Allah Dan Muslim ( Beragama Islam )




 

Semua Para Nabi & Rasul Mentauhidkan Allah Dan Muslim ( Beragama Islam )

     Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya : 25).

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus para rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An Nahl : 36)

     Allah Ta’ala juga berfirman :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran (3): 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran (3): 85)

Agama Para Nabi Dan Rasul Adalah Islam

     Allah berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam  :

وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan aku diperintahkan untuk menjadi muslim.” (QS. Yunus: 72)

     Allah berfirman tentang Ibrahim alaihis salam :

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. (QS. Al-Baqarah: 131).

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al-Baqarah: 132).

     Allah berfirman tentang Musa alaihis salam :

يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ

“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang muslim.” (QS. Yunus: 84)

     Allah juga berfirman tentang Isa 'alaihis salam :

آمَنَّا بِاللهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.” (QS. Ali Imran: 52).

وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖۗ هُوَ اجْتَبٰىكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَۗ هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ەۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِۖ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِ ۗهُوَ مَوْلٰىكُمْۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ࣖ 

"Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah salat; tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. (QS. Al Hajj : 78)

     Agama para Nabi adalah satu sebagaimana disebut dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda :

أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَالأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى ، وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Aku adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam di dunia maupun di akhirat. Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu.” (HR. Bukhari no. 3443 dan Muslim no. 2365). Dalam riwayat Muslim disebutkan,

« أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِى الأُولَى وَالآخِرَةِ ». قَالُوا كَيْفَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلاَّتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ فَلَيْسَ بَيْنَنَا نَبِىٌّ »

“Aku adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam di dunia maupun di akhirat.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa seperti itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu. Dan tidak ada di antara kita (antara Nabi Muhammad dan Nabi Isa) seorang nabi.”

     Yakni agama tauhid yaitu Islam. Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata :

أن أصل دينهم واحد وهو التوحيد وأن اختلفت فروع الشرائع

Bahwasanya pokok agama mereka sama yaitu tauhid, yang berbeda adalah cabang-cabang syariat. (Fathul Bari, 6/489)
Seperti ini juga dikatakan Imam Al Munawi (Faidhul Qadir, 3/62), dan lainnya.

     Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Nabi  menyamakan agama para Nabi yang mereka sepakati, yaitu agama tauhid, dengan bapak yang satu. (Agama tauhid) itu adalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak mempersekutukan-Nya, beriman kepada-Nya, kepada malaikat, kitab, rasul, dan perjumpaan dengan-Nya. (Disebut dengan bapak yang satu) karena semua berkumpul kepadanya, yaitu agama yang disyariatkan kepada seluruh Nabi. Allah Ta’ala berfirman,

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. Asy-Syuura [42]: 13)

Al-Bukhari rahimahullah mengatakan, “Bab dalil-dalil yang menunjukkan bahwa agama para Nabi itu satu.” Kemudian beliau menyebutkan hadis di atas.

Inilah agama Islam yang diberitakan oleh Allah Ta’ala sebagai agama para Nabi dan Rasul, sejak Rasul pertama yaitu Nuh ‘alaihis salaam, sampai Rasul terakhir yaitu Muhammad ﷺ. Agama tersebut seperti kedudukan seorang bapak yang satu.

Adapun syariat amal-amal yang diperintahkan bisa jadi berbeda-beda. Hal ini seperti ibu yang berbeda yang dimiliki oleh satu suami (ayah). Sebagaimana isi ajaran syariat yang bermacam-macam itu dari agama yang satu adalah sesuatu yang disepakati.“ (lihat Badaa’i Al-Fawaaid, 4: 167)

Dusta Itu Bukan Jalan Tapi Hanya Menunda Kehancuran Dan Kekalahan







Dusta Itu Bukan Jalan Tapi Hanya Menunda Kehancuran Dan Kekalahan

https://wahaiahlikitab.blogspot.com/2024/02/dusta-itu-bukan-jalan-tapi-hanya.html?m=1


     Allah Ta'ala berfirman :

وَيْلٌ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (7) يَسْمَعُ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (8) وَاِذَا عَلِمَ مِنْ اٰيٰتِنَا شَيْـًٔا ۨاتَّخَذَهَا هُزُوًاۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌۗ (9)


“(7) Kecelakaan yang besarlah (Wail) bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, (8) dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih. (9) Dan apabila dia mengetahui sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka (ayat-ayat itu) dijadikan olok-olok. Merekalah yang akan menerima adzab yang menghinakan." (QS: Al-Jatsiyah: 7-8).

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا 

"Dari Abdullah bin Mas'ud rodhiyaAllahu 'anhu, dia berkata: Rosulullah bersabda, "Berpegang-teguhlah dengan kebiasaan berkata jujur. Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan. Kebaikan akan mengantarkan ke Jannah. Seseorang yang selalu berkata jujur dia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah kedustaan. Sesungguhnya kedustaan mengantarkan kepada kejahatan. Kejahatan mengantarkan ke neraka. Seseorang yang biasa berdusta, dia akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.'' (HR Bukhori-Muslim).

قال إياس بن معاوية: امتحنت خصال الرجال، فوجدت أشرفها صدق اللسان، ومن عدم فضيلة الصدق، فقد فجع بأكرم أخلاقه. (تهذيب الكمال - المزي - ج ٣ - الصفحة ٤١٣)

     Iyyas bin Mu'awiyah rahimahullah berkata : "Saya menguji sifat-sifat para lelaki, maka saya mendapati yang paling mulia adalah kejujuran ucapan, dan barangsiapa tidak memiliki keutamaan sifat jujur, berarti dia telah menderita dengan kehilangan akhlaknya yang paling mulia."
(lihat Tahdzib al-Kamal (3/314) - Al Mizzi )

     Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

‏الكاذب أسوأ حالًا من البهيمة العجماء.

“Seorang pendusta lebih buruk keadaannya dibandingkan hewan yang tidak bisa berbicara.” (lihat Majmu’ul Fatawa, jilid 20 hlm. 74)

     Al-'Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan :

والشرك و الكذب والرياء شجرة في القلب، ثمرها في الدنيا الخوف والهم والغم وضيق الصدر وظلمة القلب، وثمرها في الآخرة الزقّوم والعذاب المقيم » .

"Perbuatan syirik, kedustaan dan riya ibarat sebuah pohon di dalam kalbu. Adapun buahnya di dunia adalah rasa takut, kegundahan, kegelisahan, dada yang sempit dan gelapnya kalbu. Sementara buahnya di akhirat kelak adalah buah Zaqqum dan siksaan yang abadi." (lihat Al-Fawaaid 164)

الصدق منجاة والكذب مهلكة، ولا يحترف الكذب إلا دني ساقط العدالة.

"Kejujuran menyelamatkan, sedangkan kedustaan membinasakan, dan tidak suka berdusta kecuali orang yang rendah dan jatuh keadilannya." (lihat At-Ta'liq Ala Kitab al-Kabair)





Komentar :

■  Alhamdulillah.. sebagai seorang muslim, kewajiban kami sebatas sampaikan hujjah dan bayan. Karena tak ada mashlahat debat dengan ahlu ahwa' dan para ashoghir. Tapi jika niat kalian tidak jahat, dan bukan pecundang, maka silahkan wa.me/6285226371103.??

■  Kami tidak boleh mempedulikan orang-orang bodoh.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ

"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh." (QS. Al A'raf : 199)

■  Cukuplah ini sebagai jawaban.

"Itulah kedustaan-kedustaan kalian. Silahkan ditampilkan semua kedustaan kalian sepuasnya..."

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Jumat, 02 Februari 2024

Apa Makna Bersyahadat Padahal Kita Tidak Melihat Allah ?





 


Apa Makna Bersyahadat Padahal Kita Tidak Melihat Allah ?
https://wahaiahlikitab.blogspot.com/2024/02/apa-makna-bersyahadat-padahal-kita.html?m=1


Syubhat orang kafir dan Ahlu Ahwa' : "Karena kita belum pernah melihat Allah, apakah tepat kata "Asyhadu" dalam syahadat diartikan "Aku bersaksi"? Bukankah orang yang bersaksi adalah orang yang pernah melihat? Bagaimana kita mengaku "bersaksi" kalau kita belum pernah melihat zat Allah? Itu sama saja dengan bersaksi dusta."

     Maka sebagai jawaban kita katakan :

1.  Fi'il شهد itu memiliki banyak makna diantaranya :  melihat, menyaksikan, mengetahui, mengilmui (شهد الله), menghadiri,  mengakui (شهد له بكذا),  bersumpah (شهد بكدا), memberi kesaksian di depan hakim dan sebagainya. Jadi maknanya tidak terbatas "melihat dengan mata kepala sendiri".

2.  Kata الشهادة juga memiliki banyak makna, diantaranya : bukti (البينة), sumpah (اليمين), gugur di jalan Allah (sebagai syahid), alam lahir (عالم الٱوان الظاهرة), kesaksian/pengakuan (الإقرار), surat keterangan, ijazah (عالية), bukti untuk penuntutan (اثبات), surat bukti saham.

3.  Diantara dalil yang menunjukkan سهد itu tidak harus melihat dengan mata :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ 

"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu "syahida" (=ada) di bulan itu, maka berpuasalah." (QS. Al Baqarah : 185). Sehingga orang yang buta matanya walau tidak bisa melihat/menyaksikan pun maka tetap diwajibkan puasa Ramadhan.

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ  لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

"Allah "syahida" (= menyatakan) bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada ilah (tuhan yang haq) selain Dia, Yang Mahaperkasa, Maha-bijaksana." (QS. Ali Imran : 18)

اِنْ نَّقُوْلُ اِلَّا اعْتَرٰىكَ بَعْضُ اٰلِهَتِنَا بِسُوْۤءٍ ۗقَالَ اِنِّيْٓ اُشْهِدُ اللّٰهَ وَاشْهَدُوْٓا اَنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

"kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Dia (Hud) menjawab, “Sesungguhnya "اُشْهِدُ" (= aku bersaksi) kepada Allah dan "اشْهَدُوْٓا" (=saksikanlah) bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan," (QS. Hud : 54)

۞ مَآ اَشْهَدْتُّهُمْ خَلْقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَلَا خَلْقَ اَنْفُسِهِمْۖ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّيْنَ عَضُدًا

"Aku tidak "اَشْهَدْ" (= menghadirkan) mereka (Iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan Aku tidak menjadikan orang yang menyesatkan itu sebagai penolong." (QS. Al Kahfi : 51).

4.  Diantara dalil الشهادة punya banyak makna :

اَمْ تَقُوْلُوْنَ اِنَّ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطَ كَانُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ قُلْ ءَاَنْتُمْ اَعْلَمُ اَمِ اللّٰهُ ۗ وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهٗ مِنَ اللّٰهِ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ 

"Ataukah kamu (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya adalah penganut Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, “Kamukah yang lebih tahu atau Allah, dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang menyembunyikan "شَهَادَةً" (=kesaksian) dari Allah yang ada padanya?” Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Baqarah : 140)

قُلْ اَيُّ شَيْءٍ اَكْبَرُ شَهَادَةً ۗ قُلِ اللّٰهُ ۗشَهِيْدٌۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْ ۗوَاُوْحِيَ اِلَيَّ هٰذَا الْقُرْاٰنُ لِاُنْذِرَكُمْ بِهٖ وَمَنْۢ بَلَغَ ۗ اَىِٕنَّكُمْ لَتَشْهَدُوْنَ اَنَّ مَعَ اللّٰهِ اٰلِهَةً اُخْرٰىۗ  قُلْ لَّآ اَشْهَدُ ۚ قُلْ اِنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ وَّاِنَّنِيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

"Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang lebih kuat "شَهَادَةً" (= kesaksian)nya?” Katakanlah, “Allah, Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (Al-Qur'an kepadanya). Dapatkah kamu benar-benar bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah?” Katakanlah, “Aku tidak dapat bersaksi.” Katakanlah, “Sesungguhnya hanya Dialah Tuhan Yang Maha Esa dan aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).” (QS. Al An'am : 19)

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۗ وَيَوْمَ يَقُوْلُ كُنْ فَيَكُوْنُۚ قَوْلُهُ الْحَقُّۗ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِۗ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ

" Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar), ketika Dia berkata, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan "الشَّهَادَةِ" (= yang nyata). Dialah Yang Mahabijaksana, Mahateliti." (QS. Al An'am : 73)

عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيْرُ الْمُتَعَالِ 

"(Allah)Yang mengetahui semua yang gaib dan "الشَّهَادَةِ" (= yang nyata); Yang Mahabesar, Mahatinggi." (QS. Ar Ra'd : 9)

وَالَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ اَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَّهُمْ شُهَدَاۤءُ اِلَّآ اَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ اَحَدِهِمْ اَرْبَعُ شَهٰدٰتٍۢ بِاللّٰهِ ۙاِنَّهٗ لَمِنَ الصّٰدِقِيْنَ

"Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka kesaksian masing-masing orang itu ialah empat kali "شَهٰدٰتٍۢ" (= bersumpah) dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya dia termasuk orang yang berkata benar." (QS. An Nur : 6)

5.  Syahadat (Bersaksi) Itu tidak melazimkan harus melihat.

● Bersyahadat/bersaksi tidak selalu berarti melihat dengan mata kepala. Bahkan dalam pengadilan seseorang bisa bersaksi bahwa dia mendengar suara teriakan, tembakan, suara ledakan, suara tangisan dan sebagainya. Indra yang digunakan tidak selalu penglihatan. Atau ucapan seperti aku bersaksi udara di kota Surabaya panas. Dan sebagainya.

●  Anak kalimat yang digunakan adalah kalimat negatif; tidak ada Ilah yang haq selain Allah. Seandainya kami melafazhkan syahadat dengan "aku bersaksi telah melihat Allah" maka kalian boleh sebut kami munafiq/dusta karena tahu kami belum pernah melihat Allah.

●  “Jika ada bekas tapak kaki manusia di jalan itu artinya baru saja ada orang yang melewatinya.
Jika ada kotoran unta tentu keluar dari perut unta. Biarpun aku tidak melihat orang tersebut dan tidak melihat unta tersebut,” 

●  Lidah orang yang buta matanya pun bisa diterima persaksiannya terkait rasa manis, pahit, asam ataupun asin. Orang yang buta matanya bisa diterima persaksian terkait mendengar suara teriakan, suara ledakan, suara tembakan, suara tangisan dan semisal.

●  Kami bersyahadat karena dengan ilmu sehingga panca indra kami bisa menyaksikan ayat-ayat Allah yang ada di muka bumi. Oleh karenanya agar tidak bisa diselewengkan ahlu hawa', maka terjemahan yang lebih tepat lafazh dua kalimat syahadat :

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah.

"Aku bersyahadat bahwa tidak ada Ilah yang haq melainkan Allah. Dan aku bersyahadat bahwa Nabi Muhammad adalah rasul Allah".

6.  Makna yang tepat kalimat syahadat

A. Makna Syahadat “Laa ilaaha illallah ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ )
Yaitu beri’tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, menta’ati hal terse-but dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.

Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, “Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah”. Khabar “Laa ” harus ditaqdirkan “bi haqqi” (yang hak), tidak boleh ditaqdirkan dengan “maujud ” (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini Tentu kebatilan yang nyata.

B. Makna Syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah”
Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya: menta’ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah
Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan.

7. Syarat-syarat Kalimat Syahadatain Tidak Dipersyaratkan Melihat.

A. Syarat-syarat ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ )”Laa ilaha illallah”
     Bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus dengan tujuh syarat. Tanpa syarat-syarat itu syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Secara global tujuh syarat itu adalah:
1. ‘Ilmu, yang menafikan jahl (kebodohan).
2. Yaqin (yakin), yang menafikan syak (keraguan).
3. Qabul (menerima), yang menafikan radd (penolakan).
4. Inqiyad (patuh), yang menafikan tark (meninggalkan).
5. Ikhlash, yang menafikan syirik.
6. Shidq (jujur), yang menafikan kadzib (dusta).
7. Mahabbah (kecintaan), yang menafikan baghdha’ (kebencian).

B. Syarat Syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah”
1. Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati.
2. Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan.
3. Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya.
4. Membenarkan segala apa yang dikabarkan dari hal-hal yang gha-ib, baik yang sudah lewat maupun yang akan datang.
5. Mencintainya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, harta, anak, orangtua serta seluruh umat manusia.
6. Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya.

Meniti Jejak Tauhid dari Yerusalem Hingga Kebangkitan Islam

  Meniti Jejak Tauhid dari Yerusalem Hingga Kebangkitan Islam Di Yerusalem, fajar iman membentang nyata, Yesyua' datang membawa wahyu ...