Sabtu, 20 Januari 2024

Ketetapan Allah "Orang Kafir Pasti Kalah"


 

Ketetapan Allah "Orang Kafir Pasti Kalah"

    
Allah Ta’ala berfirman :

قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ‎﴿١٢﴾

“Katakanlah (Hai Muhammad) kepada orang-orang yang kafir itu: ‘Kalian pasti akan kalah dan pasti akan dikumpulkan ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.'” (QS. Ali ‘Imran[3]: 12)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu menginfakkan harta-harta mereka untuk menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan mereka akan (terus) menginfakkan harta itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang kafir itu akan dikumpulkan,” (QS. Al-Anfal[8]: 36)

     Orang kafir akan selalu berusaha bagaimana caranya orang Islam itu jauh dari ajaran Islam. Karena mereka tahu jika orang Islam berpegang teguh kepada ajaran Islam yang murni dan benar (sebagaimana millah Nabi dan para Shahabat), disitulah umat Islam akan menang. Dan yang menang adalah yang Allah firmankan dalam surah Al-Mujadalah ayat 21 :

كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Allah telah menetapkan : ‘Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.’ Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Mujadalah[58]: 21)



وَاِنَّ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَمَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِ ۙ لَا يَشْتَرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ 

199. Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan yang diturunkan kepada mereka, karena mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali Imran : 199)

Jumat, 19 Januari 2024

Jawaban Atas Syubhat Ahli Kitab : "Al Furqan Ayat 30 Itu Perkataan Muhammad"





 

Jawaban Atas Syubhat Ahli Kitab : "Al Furqan Ayat 30 Itu Perkataan Muhammad"


وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا
               
Dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini mahjur (diabaikan).” (QS. Al-Furqan Ayat: 30)

     Maka sebagai bantahan, kita katakan :

1.  Ayat tersebut bisa dipahami bahwa Allah khabarkan tentang Nabi-Nya. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan :

يَقُولُ تَعَالَى مُخْبِرًا عَنْ رَسُولِهِ وَنَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ(١) -صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ(٢) عَلَيْهِ دَائِمًا إِلَى يَوْمِ الدين -أنه قال: ﴿يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا﴾ ، وَذَلِكَ أَنَّ الْمُشْرِكِينَ كَانُوا لَا يُصغُون لِلْقُرْآنِ وَلَا يَسْمَعُونَهُ(٣) ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ﴾ [فُصِّلَتْ: ٢٦]

Allah Ta'ala menceritakan tentang nabi-Nya, yaitu Muhammad -صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ دَائِمًا إِلَى يَوْمِ الدين. Bahwa dia mengatakan: {يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا}"Ya Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan."(Al-Furqan: 30). Demikian itu karena orang-orang musyrik tidak mau mendengar Al-Qur'an dengan penuh ketaatan, tidak mau pula mendengarnya. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh Firman-Nya dalam ayat lain: {وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ} Dan orang-orang yang kafir berkata, "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya. (Fushshilat : 26)

2.  Al Qur'an itu Kalamullah (Kalam Allah) dan bukan perkataan Nabi Muhammad.

     Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyatakan

إن القرآن كلام الله، منزل غير مخلوق، منه بدأ، و إليه يعود

“Al-Qur’an adalah Kalamullah, yang diturunkan dan bukan diciptakan (baca:bukan makhluk), berasal hanya dari-Nya, dan kembali kepada-Nya”

     Allah Ta’ala berfirman :

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar Kalam Allah (Al-Qur’an), kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui” (At-Taubah: 6).

3.  Ayat : وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا
               
Dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini diabaikan.” (QS. Al-Furqan Ayat: 30)

Ayat tersebut adalah kalam Allah dan bukan kalam Nabi Muhammad. Andai itu kalam Nabi Muhammad tentunya tanpa lafazh وَقَالَ الرَّسُوْلُ .
Nabi tidak mungkin berkata atas dirinya : Dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Rabb-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini diabaikan.”

4.  Jika masih belum jelas coba perhatikan. Misal diriku (Hazim Al Jawiy) menulis sebuah risalah (surat) isinya : "Seorang Ahli Kitab berkata, " Wahai muslim ayat tersebut itu perkataan Muhammad."
Jika kemudian ditanya : "Surat tersebut itu tulisan Ahli Kitab ataukah yang benar itu surat Hazim Al Jawiy yang menceritakan tentang perkataan Ahli Kitab?"
Orang yang akalnya sehat tentu akan mengatakan yang menulis surat tersebut adalah Hazim Al Jawiy dan bukan Ahli Kitab, tapi isinya menceritakan ahli kitab..

5.  Al Qur'an bukan buatan Muhammad. Bagi yang masih ragu, maka Allah sendiri telah membantahnya dalam Kitab-Nya :

{وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (37) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (38) بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ (39) وَمِنْهُمْ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهِ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِالْمُفْسِدِينَ (40) }

“(37) Tidak mungkin Al-Qur’an ini dibuat-buat oleh selain Allah, tetapi (Al-Qur’an) membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan secara terperinci ketetapan (Allah). Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (38) Bahkan, apakah (pantas) mereka mengatakan, “Dia (Nabi Muhammad) telah membuat-buat (Al-Qur’an) itu.”? Katakanlah (Nabi Muhammad), “(Kalau demikian,) buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah siapa yang dapat kamu (ajak) selain Allah (untuk menolongmu), jika kamu orang-orang yang benar.” (39) Bahkan, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna dan belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah halnya umat-umat sebelum mereka telah mendustakan (para rasul). Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang zalim.
(40) Dan di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepadanya (Al-Qur'an), dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Sedangkan Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Yunus : 37-40)

     Ayat ini menjelaskan tentang mukjizat yang terkandung di dalam Al-Qur'an, bahwa tidak ada seorang manusia pun yang mampu membuat hal yang semisal dengan Al Qur'an, tidak pula dengan sepuluh suratnya, serta tidak pula satu surat darinya. Karena dengan kefasihan bahasanya, paramasastranya, keringkasannya, keindahannya, dan kandungannya yang mencakup makna-makna yang jarang tetapi berlimpah dan bermanfaat di dunia dan akhirat, maka Al-Qur'an tiada lain kecuali datang dari sisi Allah, yang tiada sesuatu pun serupa dengan Dia dalam Zat, sifat, perbuatan, dan ucapan-Nya. Kalam atau firman Allah tidaklah seperti ucapan makhluk. 

Kesimpulan Dan Penutup


■  Ayat Al Qur'an tersebut (Al Furqan ayat 30) itu Kalam Allah yang mengkisahkan/menceritakan Ar Rasul dan bukan kalam Nabi Muhammad. Al Qur'an sendiri sebelum diturunkan ke langit dunia telah ada di Lauh Mafuzh. Dan tidak usah heran jika Allah mengetahui perkara ghaib atau masa depan (termasuk perkataan semua manusia baik karena Allah telah menulis Taqdir semua makhluq-Nya).

■  Al Furqon : 30 itu ayat Makkiyyah. Jadi lafazh قَوْمِى
"kaumku" pada ayat tersebut yang dimaksud kaum Quraisy yang mengacuhkan/tidak menghiraukan Al Qur'an. "Kaumku" itu maknanya beda dengan "umatku".

■  Bagi Ahli Kitab yang mengatakan ayat tersebut adalah perkataan Nabi Muhammad dan bukan Kalam Allah, maka silahkan bantah tulisan ini secara ilmiyyah dengan burhan dan hujjah atau buktikan dengan mubahalah.

تِلْكَ اَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, “Tunjukkan burhan (bukti kebenaran) kalian jika kalian orang yang shodiq (benar).” (QS. Al Baqarah : 111)

فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰىهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ

"Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (QS. Al Qoshosh : 50).

رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّۗ وَرَبُّنَا الرَّحْمٰنُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ

"Ya Robb-ku, berilah keputusan dengan adil. Dan Robb kami Ar Rohman, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kalian katakan.”

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Catatan :
Jika tujuan kalian  baik..silahkan tanya lewat wa.me/6285226371103. Kecuali jika tujuan kalian itu memang jahat.?

Tugas Malakul Maut ( Malaikat Maut ) Mencabut Nyawa


 

Tugas Malakul Maut ( Malaikat Maut ) Mencabut Nyawa


۞ قُلْ يَتَوَفّٰىكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَ
               
Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)kalian akan mematikan kalian, kemudian kepada Rabb kalian, kalian akan dikembalikan.” (QS. As-Sajdah Ayat: 11)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan proses kematian hamba yang beriman. Beliau mengatakan,

ثُمَّ يَجِىءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِى إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ

Kemudian datanglah Malaikat maut ‘alaihis salam. Dia duduk di samping kepalanya, dan mengatakan, “Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.” (HR. Ahmad 18543, Abu Daud 4753, hadits shahih).

Siapa Yang Ingin Tahu Ayat Allah Pernah Menghidupkan Orang Mati ?



Siapa Yang Ingin Tahu Ayat Allah Pernah Menghidupkan Orang Mati ?


فَقُلْنَا اضْرِبُوْهُ بِبَعْضِهَاۗ كَذٰلِكَ يُحْيِ اللّٰهُ الْمَوْتٰى وَيُرِيْكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
            
Lalu Kami berfirman, “Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu!” Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati, dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti. (QS. Al-Baqarah Ayat: 73)

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ اُلُوْفٌ حَذَرَ الْمَوْتِۖ  فَقَالَ لَهُمُ اللّٰهُ مُوْتُوْا ۗ ثُمَّ اَحْيَاهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ 

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dalam jumlah ribuan karena takut mati? Lalu, Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kamu!” Kemudian, Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah Pemberi karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al Baqarah : 243)

اَوْ كَالَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۚ قَالَ اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ۗ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَانْظُرْ اِلٰى حِمَارِكَۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَالَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
               
Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?” Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia (orang itu) menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah Ayat: 259)



 

Kamis, 18 Januari 2024

Persaksian Allah : "Nabi Muhammad Adalah Uswah Hasanah ( Suri Tauladan Yang Baik )"


 

Persaksian Allah : "Nabi Muhammad Adalah Uswah Hasanah ( Suri Tauladan Yang Baik )"


     Allah Ta'ala berfirman :

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

164. "Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Ali Imran : 164)

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

21. "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al Ahzab : 21)

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

4. "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur." (QS. Al Qalam : 4)

Di Antara Ahli Kitab Ada Yang "Ummiyyuna" Dan Menulis Al Kitab Dengan Tangannya ( Sendiri )


 


Di Antara Ahli Kitab Ada Yang "Ummiyyuna"  Dan Menulis Al Kitab Dengan Tangannya ( Sendiri )

     Allah Ta’ala berfirman :

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan di antara mereka ada yang "ummiyyuna", tidak mengetahui Al Kitab, kecuali hanya sekedar membacanya saja dan mereka hanya menduga-duga.” (QS. Al-Baqarah: 78)

فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتٰبَ بِاَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هٰذَا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ لِيَشْتَرُوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗفَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا كَتَبَتْ اَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُوْنَ

"Maka celakalah orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka (sendiri pent), kemudian berkata, “Ini dari Allah,” (dengan maksud pent) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka, karena tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat." (QS. Al Baqarah : 79)

Rabu, 17 Januari 2024

Apa Benar Kata Ganti "Nahnu" ( Kami ) Itu Pasti Menunjukkan Lebih Dari Satu (Jamak) ?






 

Apa Benar Kata Ganti "Nahnu" ( Kami ) Itu Pasti Menunjukkan Lebih Dari Satu (Jamak) ?

Penggunaan Lafazh " نَحْنُ " (Nahnu/Kami) Sebagai Kata Ganti Allah
https://wahaiahlikitab.blogspot.com/2024/01/apa-benar-kata-ganti-nahnu-kami-itu.html?m=1

     Nahnu adalah salah satu jenis dari isim dhomir yang merujuk pada pihak yang berbicara atau mutakallim. Nahnu tulisan Arab tertulis نَحْنُ yaitu tiga huruf (Nun, Ha’ dan Nun) yang semuanya disambung. Dalam al Quran Surah al Waqiah ayat : ( نَحْنُ خَلَقْنَاكُمْ ) "Kami telah menciptakan kalian." (QS. Al-Waqiah 57). 

     Penggunaan lafaz nahnu sebagai kata ganti Allah ini memiliki tujuan tersendiri. Tujuannya seperti sebagai penghormatan (Ta’dhim), keterlibatan makhluk lain (yang hakikatnya makhluk yang terlibat tersebut ciptaan Allah) dan lain sebagainya. Allah sering mempergunakan dhomir Nahnu ini untuk merujuk pada Dzatnya, seperti contoh di atas. Bukan berarti Allah itu lebih dari satu, Na’udzubillah!. Yang dikehendaki dengan pemilihan diksi (yaitu pilihan kata yang tepat serta selaras dan bertujuan agar pembaca dapat memahami teks dalam tulisan) "Nahnu" dalam konteks ini adalah kami yang merujuk pada bentuk kata ganti Tunggal, namun bermakna penghormatan (Ta’dhim). Di sini, penggunaan kata “Nahnu” oleh Allah menunjukkan penghormatan dan pengagungan terhadap-Nya sendiri.

     Allah Ta'ala berfirman :

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ ۝٩

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya." (QS. Al Hijr : 9). Itu artinya Allah menjaga Al Qur'an bisa melalui hamba-hambanya baik dari kalangan malaikat ataupun orang-orang mukmin yang mana mereka semua hakikatnya juga ciptaan Allah.

■  Dalam penciptaan manusia disebutkan 2 jenis lafazh :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

" 56. Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz Dzariyyat : 56)

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْۗ وَنُقِرُّ فِى الْاَرْحَامِ مَا نَشَاۤءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْٓا اَشُدَّكُمْۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔاۗ وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ

Wahai manusia, jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, sesungguhnya Kami telah menciptakan (orang tua) kamu (Nabi Adam) dari tanah, kemudian (kamu sebagai keturunannya Kami ciptakan) dari setetes mani, lalu segumpal darah, lalu segumpal daging, baik kejadiannya sempurna maupun tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu (tanda kekuasaan Kami dalam penciptaan). Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. Kemudian, Kami mengeluarkanmu sebagai bayi, lalu (Kami memeliharamu) hingga kamu mencapai usia dewasa. Di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) yang dikembalikan ke umur yang sangat tua sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya (pikun). Kamu lihat bumi itu kering. Jika Kami turunkan air (hujan) di atasnya, ia pun hidup dan menjadi subur serta menumbuhkan berbagai jenis (tetumbuhan) yang indah. (QS Al-Hajj Ayat 5)

     Lafazh Kholaqtu (خلقت) biasanya digunakan untuk menetapkan atau sebatas mengkabarkan tanpa menjelaskan proses penciptaan. Sedang lafazh Kholaqna (خَلَقْنَا) biasanya digunakan Allah untuk mengabarkan atau ada informasi tambahan tentang proses penciptaan makhluk. Seperti ada keterlibatan malaikat peniup ruh, orang tua yang mengandung, dokter, bidan dll. Yg mana mereka semua hakekatnya juga ciptaan Allah. Justru itu menunjukkan kesempurnaan bahasa Arab pada Al-Qur'an.

■  Allah Itu Maha Raja Diraja Sehingga Tidak usah heran punya para utusan, balantara di langit dan di bumi ataupun kerajaan. Tapi Dia Maha Tunggal. Di antara nama Allah adalah al-Malik ( الْمَلِكُ ) dan al-Maliik ( الْمَلِيكُ ). Hal ini berdasarkan firman Allah,

هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ

“Dia-lah Allah Yang tiada Ilahi (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Hasyr : 23)

■  CATATAN :

1.  Kita disyari'atkan mengucapkan "Assalamu'alakum" dan bukan "Assalamu'alaika" walau berjumpa 1 orang. Sebagaimana juga "antum" bisa digunakan untuk kata ganti 1 orang. Justru "anta/ente" kadang bisa dianggap kurang halus. Demikian juga penggunaan nahnu (kami).

2.  Bahasa Arab itu bukan bahasa kalian, sehingga bangsa Arab itu lebih paham penggunaan kata "nahnu" dibanding kalian dan kalian tidak punya hak untuk protes. Kaum musyrikin Quraisy saja yang ahli dalam bahasa Arab tak ada yang memahami Allah itu lebih dari 1, tapi tunggal. Itu sebabnya dalam penerjemahan Al Qur'an tetap wajib menulis lafazh Arabnya. Supaya tidak bisa diselewengkan maknanya oleh orang-orang semacam kalian atau para pengikut hawa nafsu. Paham?

    

Penggunaan Kata Ganti "Kami" Dalam Bahasa Indonesia

■ PERHATIKAN !! : "kami adalah kata ganti orang atau pronomina pertama jamak atau tunggal yang bersifat menunjukkan kehormatan si pembicara yang bersifat eksklusif."

     Itu artinya "kami" dalam bahasa Indonesia pun juga bisa diucapkan 1 orang atau tunggal. Kata ganti kami dalam konteks Indonesia juga sering digunakan para tokoh, pejabat presiden ataupun raja. Coba perhatikan ketika mereka berpidato. Hal ini lazim terjadi. Demikian juga tujuannya untuk ta'dhim (mengagungkan diri).

     Dalam hal ini banyak sekali contoh penggunaan, diantaranya :
(1) "Kami atas nama bangsa Indonesia/NKRI" ternyata presidennya juga cuma 1 dan diucapkan 1 presiden. Dan tidak menunjukkan presidennya banyak.
(2) "Kepada para undangan, kami persilahkan.." padahal yang mengucapkan bukan banyak orang, tapi 1 orang.
(3) "Kepada para wisudawan, kami persilahkan ..."
walau yang mengucapkan hanya 1 orang. Dan tak ada yang memahami itu diucapkan 3 orang.
(4) Seorang raja bisa berkata : "Kami akan menghukum kalian". Jangan dipahami rajanya banyak atau tidak punya kuasa. Pada hakekatnya yg memberi hukuman adlh raja tp lewat org2 yg dibawah kekuasaan raja.
(5) Bisa bermakna mewakili. Seperti "kami putra putri..", "kami sebagai murid", "kami sebagai pendengar", "kami sebagai rakyat" dsb tidak tidak menunjukkan pasti diucapkan lebih dari 2 orang, tapi juga bisa diucapkan satu orang. Untuk contoh semisal ini terkandung makna "mewakili" dan bukan menunjukkan yang mengucapkannya pasti dari 1 orang. Dan sebagainya.

Penutup


     Demikian penjelasan tentang "نَحْنُ" (nahnu) artinya adalah kata ganti kami atau kita. Kata ganti “Nahnu” dalam bahasa Arab dan Al-Qur’an memiliki arti “kami” atau “kita”. Meskipun Allah tunggal, penggunaan kata ganti ini oleh-Nya menunjukkan penghormatan dan pengagungan terhadap diri-Nya.

     Dalam konteks lebih luas, Nahnu artinya penggambaran bahwa pernyataan atau tindakan yang dibuat dengan menyebutkan ‘kami’, menunjukkan nilai otoritas yang tinggi, mulia dan memiliki cakupan terhadap pihak lain atau kelompok yang terlibat.

     Bagi ahli kitab atau siapa saja yang mengingkarinya, maka silahkan jawab/bantah secara ilmiyyah dengan burhan dan hujjah atau buktikan dengan mubahalah.

قل هاتو برهانكم إن كنتم صادقين

"Katakanlah, datangkanlah burhan kalian jika kalian orang yang shodiq (benar) !"

فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰىهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ

"Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (QS. Al Qoshosh : 50).

رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّۗ وَرَبُّنَا الرَّحْمٰنُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ

"Ya Robb-ku, berilah keputusan dengan adil. Dan Robb kami Ar Rohman, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kalian katakan.”

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Meniti Jejak Tauhid dari Yerusalem Hingga Kebangkitan Islam

  Meniti Jejak Tauhid dari Yerusalem Hingga Kebangkitan Islam Di Yerusalem, fajar iman membentang nyata, Yesyua' datang membawa wahyu ...