Satu Rumpun Satu Ilahi: Melacak Akar Kata "Allah" dalam Tradisi Ibrani, Aram, dan Arab
https://wahaiahlikitab.blogspot.com/2026/06/satu-rumpun-satu-ilahi-melacak-akar.html?m=1
Perdebatan mengenai nama dan sebutan Ilahi (Tuhan) sering kali menjadi isu yang sensitif di kalangan umat beragama. Banyak orang mengira bahwa perbedaan sebutan mencerminkan perbedaan entitas Sang Pencipta yang disembah. Padahal, jika kita membuka lembaran sejarah, meneliti rumpun bahasa kuno di Timur Tengah, dan membaca draf Al-Qur'an secara saksama, kita akan menemukan kenyataan yang menakjubkan: tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam menggunakan kata yang bersumber dari satu akar bahasa yang sama untuk menyebut Ilahi (Tuhan).
Melalui pendekatan linguistik komparatif (perbandingan bahasa) dan konfirmasi dalil kitab suci, tulisan ini akan melacak bagaimana kata "Allah" berevolusi dan berkerabat erat dengan sebutan Tuhan dalam tradisi Ibrani (Taurat) dan Aram (Injil).
Akar Semit: Fondasi Bahasa Tiga Kitab Suci
Sebelum membahas masing-masing kitab suci, kita harus memahami bahwa bahasa Ibrani, Aram, dan Arab tidak berdiri sendiri. Ketiganya adalah bagian dari Rumpun Bahasa Semit. Karena berasal dari rahim yang sama, ketiga bahasa ini berbagi struktur tata bahasa dan akar kata yang serupa.
Dalam rumpun bahasa Semit kuno, konsep dasar tentang "Ilahi", "kekuatan", atau "sesembahan" diwakili oleh dua huruf konsonan utama: El (אל) atau Il (إل). Dari dua huruf dasar inilah, variasi sebutan Ilahi dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an berkembang sesuai dengan dialek dan zaman masing-masing.
1. Tradisi Ibrani dalam Taurat Yahudi
Taurat, sebagai kitab suci umat Yahudi, ditulis menggunakan bahasa Ibrani kuno. Dalam teks Taurat, terdapat beberapa nama dan gelar yang digunakan untuk menyebut Sang Pencipta. Jika kita mencari kerabat linguistik dari kata "Allah", kita akan menemukannya dalam dua kata berikut:
🔸 Eloah (אֱلֹهַּ): Ini adalah bentuk tunggal yang berarti "Tuhan" atau "Sesembahan". Secara fonetis dan struktur kata, Eloah adalah kerabat langsung dari kata Ilah dalam bahasa Arab.
🔸 Elohim (אֱلֹهِيم): Kata ini adalah bentuk yang paling sering muncul di dalam Taurat (lebih dari 2.000 kali). Secara tata bahasa, akhiran -im menunjukkan bentuk jamak. Namun, dalam teologi Yahudi, jamak di sini bukanlah jumlah Ilahi-nya, melainkan bentuk penghormatan tertinggi (plural of majesty / jamak keagungan) untuk menggambarkan kemahakuasaan Ilahi.
Meskipun umat Yahudi memiliki nama pribadi Ilahi (Tuhan) yang sakral, yaitu YHWH (Tetragrammaton), kata Eloah dan Elohim secara linguistik berada di jalur evolusi yang sama dengan kata Allah.
2. Tradisi Aram dalam Injil Kuno
Bergeser ke abad pertama masehi di tanah Yudea dan Galilea, Yesus Kristus (Isa Al-Masih) dan para murid-Nya tidak berbicara dalam bahasa Ibrani modern maupun Arab, melainkan bahasa Aram (Aramaic). Bahasa Aram menjadi lingua franca di Timur Tengah pada masa itu, dan versi kuno dari Kitab Injil (seperti teks Peshitta) ditulis dalam bahasa ini.
Bagaimana Yesus dan masyarakat zaman itu menyebut Tuhan?
🔸 Elah (אֱلَه): Dalam bahasa Aram, kata tunggal untuk Ilahi (Tuhan) adalah Elah.
🔸 Alaha atau Ĕlāhā (אلهא): Ketika kata Elah diberi akhiran -a dalam tata bahasa Aram, maknanya berubah menjadi bentuk definitif (artinya: "Tuhan itu" atau "Sang Tuhan Tunggal").
Ketika kita mendengar pelafalan Alaha, telinga kita akan langsung menangkap kemiripan bunyi yang luar biasa dekat dengan kata Allah dalam bahasa Arab. Bahkan, jejak kelestarian kata ini bisa kita lihat saat Yesus berseru di tiang salib: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" atau dalam dialek Aram lain "Eloi, Eloi..." yang berarti "Tuhanku, Tuhanku...". Kata Eli atau Elahi di sini seakar dengan kata Ilahi atau Allahi dalam bahasa Arab yang berarti "Tuhanku".
3. Tradisi Arab dalam Al-Qur'an (Dalil Penyebutan Nama Allah)
Ketika Islam lahir di jazirah Arab pada abad ke-7 masehi, bahasa Arab mencapai puncak estetika tertingginya melalui teks Al-Qur'an. Dalam konsepsi Al-Qur'an, kata Allah bukanlah kata serapan baru atau spekulasi filosofis buatan manusia. Nama tersebut diperkenalkan langsung oleh Sang Pencipta sebagai Nama Diri (Proper Name/Ism al-Dzat) yang agung, mutlak, dan eksklusif.
Al-Qur'an memberikan dalil tegas mengenai pengenalan nama diri ini, salah satunya dalam Surah Thaha ayat 14, ketika Sang Pencipta berfirman langsung kepada Nabi Musa:
"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada Ilahi (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku." (QS. Thaha: 14)
Secara kebahasaan Arab, nama ini terbentuk dari penggabungan kata sandang definitif Al (Sang/Itu) dan Ilah (tuhan umum). Ketika digabungkan, ia melebur menjadi Al-Ilah, yang kemudian disederhanakan menjadi Allah. Artinya secara harfiah adalah "Ilah Yang Tunggal"—Ilahi yang sudah pasti, yang tiada sekutu bagi-Nya.
Maka, ketika Al-Qur'an mengumandangkan kalimat tauhid, ia memisahkan kata benda umum (ilah) dengan nama diri yang absolut (Allah) dalam ayat di atas: "lā ilāha illā ana" (tidak ada ilah (tuhan) umum selain Aku/Allah).
Dalil Al-Qur'an: Menegaskan Kesamaan Tuhan yang Disembah
Al-Qur'an secara eksplisit mengonfirmasi bahwa esensi Ilah yang disembah oleh umat Islam sebetulnya sama dengan Ilah yang disembah oleh para Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen). Hal ini dinyatakan secara langsung dalam Surah Al-'Ankabut ayat 46 sebagai panduan dasar dalam berdialog lintas agama:
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah: ‘Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.’” (QS. Al-'Ankabut: 46)
Ayat ini merupakan proklamasi teologis yang sangat kuat. Al-Qur'an memerintahkan umat Islam untuk menegaskan kepada kaum Yahudi dan Kristen bahwa entitas Ilahi yang menurunkan Taurat kepada Musa, menurunkan Injil kepada Yesus, serta menurunkan Al-Qur'an kepada Muhammad adalah Dzat yang satu dan sama. Perbedaan yang ada di kemudian hari bukanlah pada sosok Ilahi-nya, melainkan pada pemahaman teologis, hukum syariat, dan konsep peribadatannya.
Kesimpulan: Satu Garis Sejarah yang Mempersatukan
Melalui pelacakan historis dan dalil kitab suci ini, kita dapat melihat benang merah yang sangat jelas:
Ibrani: Eloah ➔ Aram: Elah / Alaha ➔ Arab: Ilah / Allah
Ketiga kata ini bukan sekadar mirip secara kebetulan, melainkan serumpun secara genetik kebahasaan. Jauh sebelum Islam lahir, orang-orang Kristen berbahasa Aram di Syam dan orang-orang Yahudi di jazirah Arab sudah menggunakan kata Alaha dan Allah dalam doa-doa mereka. Bahkan hingga hari ini, umat Kristen di Timur Tengah (seperti di Mesir, Lebanon, Suriah, dan Irak) tetap menggunakan kata "Allah" di dalam Alkitab Arab dan ibadah mereka karena itulah bahasa ibu mereka.
Memahami aspek kebahasaan dan dalil inklusif dari Surah Al-'Ankabut ini membuka mata kita pada sebuah perspektif yang damai. Di balik perbedaan teologis yang ada saat ini, ada satu ruang sejarah dan wahyu di mana tradisi Ibrani, Aram, dan Arab bertemu. Mereka bergaung dalam harmoni yang sama, menyuarakan kerinduan manusia yang mendalam pada satu esensi yang maha tinggi: Satu Rumpun, Satu Ilahi.
Melalui pendekatan linguistik komparatif (perbandingan bahasa) dan konfirmasi dalil kitab suci, tulisan ini akan melacak bagaimana kata "Allah" berevolusi dan berkerabat erat dengan sebutan Tuhan dalam tradisi Ibrani (Taurat) dan Aram (Injil).
Akar Semit: Fondasi Bahasa Tiga Kitab Suci
Sebelum membahas masing-masing kitab suci, kita harus memahami bahwa bahasa Ibrani, Aram, dan Arab tidak berdiri sendiri. Ketiganya adalah bagian dari Rumpun Bahasa Semit. Karena berasal dari rahim yang sama, ketiga bahasa ini berbagi struktur tata bahasa dan akar kata yang serupa.
Dalam rumpun bahasa Semit kuno, konsep dasar tentang "Ilahi", "kekuatan", atau "sesembahan" diwakili oleh dua huruf konsonan utama: El (אל) atau Il (إل). Dari dua huruf dasar inilah, variasi sebutan Ilahi dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an berkembang sesuai dengan dialek dan zaman masing-masing.
1. Tradisi Ibrani dalam Taurat Yahudi
Taurat, sebagai kitab suci umat Yahudi, ditulis menggunakan bahasa Ibrani kuno. Dalam teks Taurat, terdapat beberapa nama dan gelar yang digunakan untuk menyebut Sang Pencipta. Jika kita mencari kerabat linguistik dari kata "Allah", kita akan menemukannya dalam dua kata berikut:
🔸 Eloah (אֱلֹهַּ): Ini adalah bentuk tunggal yang berarti "Tuhan" atau "Sesembahan". Secara fonetis dan struktur kata, Eloah adalah kerabat langsung dari kata Ilah dalam bahasa Arab.
🔸 Elohim (אֱلֹهِيم): Kata ini adalah bentuk yang paling sering muncul di dalam Taurat (lebih dari 2.000 kali). Secara tata bahasa, akhiran -im menunjukkan bentuk jamak. Namun, dalam teologi Yahudi, jamak di sini bukanlah jumlah Ilahi-nya, melainkan bentuk penghormatan tertinggi (plural of majesty / jamak keagungan) untuk menggambarkan kemahakuasaan Ilahi.
Meskipun umat Yahudi memiliki nama pribadi Ilahi (Tuhan) yang sakral, yaitu YHWH (Tetragrammaton), kata Eloah dan Elohim secara linguistik berada di jalur evolusi yang sama dengan kata Allah.
2. Tradisi Aram dalam Injil Kuno
Bergeser ke abad pertama masehi di tanah Yudea dan Galilea, Yesus Kristus (Isa Al-Masih) dan para murid-Nya tidak berbicara dalam bahasa Ibrani modern maupun Arab, melainkan bahasa Aram (Aramaic). Bahasa Aram menjadi lingua franca di Timur Tengah pada masa itu, dan versi kuno dari Kitab Injil (seperti teks Peshitta) ditulis dalam bahasa ini.
Bagaimana Yesus dan masyarakat zaman itu menyebut Tuhan?
🔸 Elah (אֱلَه): Dalam bahasa Aram, kata tunggal untuk Ilahi (Tuhan) adalah Elah.
🔸 Alaha atau Ĕlāhā (אلهא): Ketika kata Elah diberi akhiran -a dalam tata bahasa Aram, maknanya berubah menjadi bentuk definitif (artinya: "Tuhan itu" atau "Sang Tuhan Tunggal").
Ketika kita mendengar pelafalan Alaha, telinga kita akan langsung menangkap kemiripan bunyi yang luar biasa dekat dengan kata Allah dalam bahasa Arab. Bahkan, jejak kelestarian kata ini bisa kita lihat saat Yesus berseru di tiang salib: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" atau dalam dialek Aram lain "Eloi, Eloi..." yang berarti "Tuhanku, Tuhanku...". Kata Eli atau Elahi di sini seakar dengan kata Ilahi atau Allahi dalam bahasa Arab yang berarti "Tuhanku".
3. Tradisi Arab dalam Al-Qur'an (Dalil Penyebutan Nama Allah)
Ketika Islam lahir di jazirah Arab pada abad ke-7 masehi, bahasa Arab mencapai puncak estetika tertingginya melalui teks Al-Qur'an. Dalam konsepsi Al-Qur'an, kata Allah bukanlah kata serapan baru atau spekulasi filosofis buatan manusia. Nama tersebut diperkenalkan langsung oleh Sang Pencipta sebagai Nama Diri (Proper Name/Ism al-Dzat) yang agung, mutlak, dan eksklusif.
Al-Qur'an memberikan dalil tegas mengenai pengenalan nama diri ini, salah satunya dalam Surah Thaha ayat 14, ketika Sang Pencipta berfirman langsung kepada Nabi Musa:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada Ilahi (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku." (QS. Thaha: 14)
Secara kebahasaan Arab, nama ini terbentuk dari penggabungan kata sandang definitif Al (Sang/Itu) dan Ilah (tuhan umum). Ketika digabungkan, ia melebur menjadi Al-Ilah, yang kemudian disederhanakan menjadi Allah. Artinya secara harfiah adalah "Ilah Yang Tunggal"—Ilahi yang sudah pasti, yang tiada sekutu bagi-Nya.
Maka, ketika Al-Qur'an mengumandangkan kalimat tauhid, ia memisahkan kata benda umum (ilah) dengan nama diri yang absolut (Allah) dalam ayat di atas: "lā ilāha illā ana" (tidak ada ilah (tuhan) umum selain Aku/Allah).
Dalil Al-Qur'an: Menegaskan Kesamaan Tuhan yang Disembah
Al-Qur'an secara eksplisit mengonfirmasi bahwa esensi Ilah yang disembah oleh umat Islam sebetulnya sama dengan Ilah yang disembah oleh para Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen). Hal ini dinyatakan secara langsung dalam Surah Al-'Ankabut ayat 46 sebagai panduan dasar dalam berdialog lintas agama:
۞ وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah: ‘Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.’” (QS. Al-'Ankabut: 46)
Ayat ini merupakan proklamasi teologis yang sangat kuat. Al-Qur'an memerintahkan umat Islam untuk menegaskan kepada kaum Yahudi dan Kristen bahwa entitas Ilahi yang menurunkan Taurat kepada Musa, menurunkan Injil kepada Yesus, serta menurunkan Al-Qur'an kepada Muhammad adalah Dzat yang satu dan sama. Perbedaan yang ada di kemudian hari bukanlah pada sosok Ilahi-nya, melainkan pada pemahaman teologis, hukum syariat, dan konsep peribadatannya.
Kesimpulan: Satu Garis Sejarah yang Mempersatukan
Melalui pelacakan historis dan dalil kitab suci ini, kita dapat melihat benang merah yang sangat jelas:
Ibrani: Eloah ➔ Aram: Elah / Alaha ➔ Arab: Ilah / Allah
Ketiga kata ini bukan sekadar mirip secara kebetulan, melainkan serumpun secara genetik kebahasaan. Jauh sebelum Islam lahir, orang-orang Kristen berbahasa Aram di Syam dan orang-orang Yahudi di jazirah Arab sudah menggunakan kata Alaha dan Allah dalam doa-doa mereka. Bahkan hingga hari ini, umat Kristen di Timur Tengah (seperti di Mesir, Lebanon, Suriah, dan Irak) tetap menggunakan kata "Allah" di dalam Alkitab Arab dan ibadah mereka karena itulah bahasa ibu mereka.
Memahami aspek kebahasaan dan dalil inklusif dari Surah Al-'Ankabut ini membuka mata kita pada sebuah perspektif yang damai. Di balik perbedaan teologis yang ada saat ini, ada satu ruang sejarah dan wahyu di mana tradisi Ibrani, Aram, dan Arab bertemu. Mereka bergaung dalam harmoni yang sama, menyuarakan kerinduan manusia yang mendalam pada satu esensi yang maha tinggi: Satu Rumpun, Satu Ilahi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar